Friday, June 17, 2011
Melonjak di Pelangi
Dan meninggalkan ego ku di sini
Terkena realitas
Sebagai kehampaan dan ketakutan
Aku membutuhkan semua keberanianku
Untuk mengambil lompatan raksasa
Untuk terhipnotis dalam mimpi
Pikiranku cepat terlelap
Tapi ketika pelangi yang memberi isyarat
Aku berjalan menembus malam
Aku melompat melintasi pelangi
Dan jatuh ke TERANG itu!
Wednesday, May 18, 2011
Safe am I in the hollow of His hand
Sheltered o'er with love for evermore.
No ill can harm me, no foe alarm me:
For He keeps both day and naight.
Safe am I in the hollow on His hand.
Sunday, October 18, 2009
Minggu sore yang mencerahkan hati
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.46 WIB, saat yang baik untuk tidur dan terbang ke alam mimpi, apalagi besok hari senin, hari ke-19 di bulan Oktober, juga hari untuk kembali mulai beraktivitas. Namun mata belum berasa ngantuk, masih betah melotot manis, mungkin karena tidur singkatku tadi siang yang sejujurnya bukan suatu kebiasaanku atau mungkin juga karena pengaruh bubur BRD yang baru satu jam yang lalu aku nikmati bersama dua temanku, Sisca dan Elisabeth. Hmm….masih terasa nikmatnya. Aku beranjak dari tempat tidur lalu duduk bersandar di kursi meja computer, pikiranku melayang pada apa yang kualami sebelum aku tiba di rumah, tepatnya tujuh jam sejak berangkat ke gereja. Apakah malam ini aku akan menulis atau merekam tentang apa yang berkecamuk dalam pikiranku ini? Batinku. Biasanya aku akan lebih senang memilih merekam suaraku di mp4. Dengan merekam, waktu yang diperlukan tidak sebanyak waktu dibutuhkan untuk menulis, apalagi ini sudah larut, menulis bisa dilakukan di mana saja. Tapi entah kenapa aku malah memilih untuk menulis, bahkan tidak tanggung-tanggung aku malah ingin menulis langsung di halaman blogku, bukan di buku diary/note seperti biasanya. Ah sudahlah, pikirku, yag penting semua isi pikiran ini dapat tertuang. Akhirnya kuurungkan niatku untuk membuka facebook supaya aku bisa konsentrasi menulis, dan baru kusadari, tanganku sebelah kanan masih memegang erat dua kertas kuning yang tadi aku raih dari tas gereja yang tergeletak di sampingku, warta jemaat dan bulletin Ibsus hari ini. Yah, kedua isi kertas itu telah membuatku menangis saat ibadah sore di gereja HKBP Jatiwaringin.
Tadi, tepat jam 15.25 WIB, aku berangkat ke gereja, sebelumnya aku sudah janji sama temanku, Sisca, akan kebaktian bersama di Ibadah Khusus HKBP Jatiwaringin. Dikarenakan jarak antara rumah dengan gereja tidak begitu jauh, aku pun berangkat dengan tidak terburu-terburu.
Ah, ternyata perkiraanku salah, ketika tiba di gereja dan melintasi area parkiran, lamat-lamat terdengar suara jemaat bernyanyi diiringi musik band. Duh, aku telat! mungkin dua atau tiga menit. Ini pasti nyanyian panggilan beribadah, pikirku. Aku mengarahkan pandangan ke arah beberapa teman yang juga terlambat, ada yang terlihat buru-buru, ada yang sangat santai seolah-olah ibadah belum dimulai, ada yang terlihat mondar-mandir menunggu seseorang seperti yang pernah kulakukan beberapa minggu lalu, namun ada juga seperti diriku yang terlihat tenang saat tiba di depan pintu gereja, mengambil bulletin Ibsus yang sudah disediakan di atas sebuah meja, lalu memasuki ruangan gereja. Mataku tertuju pada bangku-bangku kosong di belakang yang yang tidak jauh dari tempatku berdiri dan kepada setiap jemaat yang belum begitu banyak sedang berdiri menyanyikan lagu pujian penyembahan yang sudah akrab ditelingaku. Hmm…ada yang bersemangat namun ada juga yang tidak. Aku mulai menyusuri bangku-bangku kosong bagian belakang kolom pertama yang kuyakini dalam
Aku mulai ikut bernyanyi sambil menatap layar di depan, mencoba membaca syair lagu-lagu yang tertera di
Saat mengikuti ibadah, aku menyadari kalau hampir semua lagu mengingatkanku akan beberapa hal yang terjadi dalam hidupku, lagu sebelum votum, “Tinggikan diriMu”, salah satu lagu yang mengiringi langkahku ke tempat kerja beberapa bulan lalu, trus lagu sebelum Hukum Taurat, “Here I am to worship”, lagu yang menemeniku saban aku buka situs blogku, kemudian lagu “Bagai rajawali” dan “Di bawah kepak sayapMu” mengingatkannku akan satu minggu belakangan ini, yang ingin banget melintasi langit biru bagai rajawali bersamaNya dan berlindung di bawah kepak sayapNya dalam mengatasi persoalan hidup ini dan butuh kekuatan dariNya karena kodisiku yang sangat lemah.
Ibadah masih berjalan dengan lancar, meskipun tidak dapat dipungkiri teman-teman ada yang tidak dapat menahan hasrat untuk tidak mengobrol dan berbisik-bisik yang tentunya dapat mengganggu konsentrasi jemaat yang beribadah.
Kotbah inang pendeta yang kutunggu-tunggu, terasa menyadarkanku lagi. Aku memposisikan diriku seperti nabi Musa yang merasa tidak mampu menjalankan tugas yang Tuhan percayakan kepada Musa, padahal TUHAN mengatakan kalau Musa akan selalu dalam penyertaanNya dan menghadirkan Harun untuk membantu Musa dalam menjalankan tugas yang Tuhan perintahkan. Aku berpikir apakah ada jemaat yang hadir mempunyai masalah yang sama denganku? Aku berharap aku bisa seperti Musa yang akhirnya sadar dan kemudian mejalankan tugas panggilan Tuhan. Kembali aku membaca renungan yang ada buletin ibsus dan menghubungkannya dengan kotbah inang pendeta. Suara-suara itu lagi-lagi menegurku, aku menahan airmataku supaya tidak jatuh lagi, duh! Aku merasa dua minggu ini, diriku cengeng banget, bawaanya menangis mulu, hanya karena suatu hal yang kurasa tidak mampu kulakukan, baik dalam dunia kerja maupun dalam aktivitasku yang lain, padahal di sisi lain banyak orang yang sangat membutuhkanku di lingkungan kerjaku, di keluarga dan pelayananku. Aku butuh motivasi, butuh perhatian, butuh dorongan untuk membuatku semakin optimis dan percaya diri dalam menjalankan tugasku. And now, aku akan bangkit. Tuhan akan mendapingiku. Aku tahu apa pun yang terjadi dalam hidup ini ada penyebanya dan jika itu satu hal yang dapat dikategorikan suatu masalah, aku yakin semua itu pasti bisa diselasaikan dengan baik dan bijaksana karena
Saat persembahan ke-2 yang dihantarkan ke depan untuk korban bencana alam/gempa di Sumatera Barat,
Usai ibadah, aku baru sadar, niatku untuk merekam satu dua lagu terlupakan…Kuakui merekam sudah menjadi kebiasaanku. Meskipun begitu, aku tetap senang dan tersungging sendiri, karena tadi, diam-diam aku sempat merekam suatu hal yang lebih menarik perhatianku. Mudah-mudahan saja tidak ada yang memperhatikanku. Dan aku memang yakin teman-teman tidak akan ada yang tahu, mereka hanya tahu, bahwa aku merekam lagu-lagunya saja, padahal ada hal lain yang kurekam tanpa mereka sadari. Ini sudah kesekian kali aku merekamnya, dan semua itu sudah tersimpan rapi di mp4 yang selalu setia menemani dan menghiburku. Apakah itu? Lebih baik tidak kubeberkan di halaman ini, secret! Hahhahaa…Yang tahu hanya aku dan Tuhan. Kemudian aku menyalami teman-teman, dan teman-teman yang lain pun saling bersalaman mengucapakan selamat hari minggu, aku senang melihat kegembiraan di wajah mereka, begitu ceria dan menyenangkan. Aku ikut berbaur dengan mereka dan mengobrol apa adanya dan berharap mereka semua mendapatkan sesuatu yang baru dalam ibadah yang baru saja usai. Kemudian aku keluar melalui pintu samping gereja dan berdiri di koridor samping. Aku berniat menelepon temanku yang belum kelihatan batang hidungnya, padahal kami ada rencana usai ibadah akan langsung menghadiri acara resepsi pernikahan teman. Namun pada akhirnya aku memilih untuk tetap di geraja saja karena ternyata, ada rapat naposo untuk memastikan apakah NHKBP Jatiwaringin ikut berpartisipasi dalam pesparawi di HKBP Pasar Rebo. Aku berharap niat kami untuk ikut memang tulus, salah satu
Sepuluh menit sebelum rapat usai, temanku, Sisca muncul dengan penampilan yang menawan, aku tersenyum menyambutnya, dia minta maaf dan mengajakku untuk makan malam di luar sebagai ganti acara resepsinya. Seusai rapat kami masih ngobrol-ngobrol di corner dengan beberapa teman naposo yang masih tinggal. Setengah jam kemudian kami beranjak meninggalkan gereja dan mengajak teman kami yang lain,
Kalau saja hari masih sore kami masih akan betah berlama-lama disana, tapi ini sudah larut. Lalu atas keputusan bersama kami pun segera pulang dengan wajah ceria. Hm, minggu yang luar biasa pikirku, tak menyangka dalam tujuh jam yang kujalani barusan, membuatku semakin bersyukur bahwa Kasih Tuhan kepada umatNya sungguh luar biasa, Dia tidak pernah meningggalkan anak-anakNya, meskipun ada suka duka, inilah cara Tuhan untuk kita sadar dan belajar bagaimana hidup yang benar di hadapan Tuhan. Thanks God untuk setiap hari yang kujalani.
Monday, August 10, 2009
Ulang tahunku
Karena hari ini, hari ulang tahunku mungkin akan sangat menarik bila aku sedikit berbagi-bagi cerita tentang mengapa aku begitu peduli dengan ucapan "selamat hari ulang tahun". Berawal dari sejak aku masih anak-anak. Ketika masih duduk di bangku SD, aku yang hobby membaca sering membuka dan membaca buku agenda bapakku yang disimpan di laci lemari. Catatan-catatan penting dalam buku itu sering aku baca yang salah satunya catatan mengenai data-data kami sekeluarga, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Lalu aku menghafal hari-hari kelahiran kami dan memberitahu kepada saudara-saudara untuk saling mengingatkan jika hari ulang tahunnya sudah tiba. Namun walaupun begitu, tetap saja kita kadang lupa hhehe...tapi jika tidak sedang lupa, bukan berarti akan ada hadiah ulang tahun apalagi perayaan besar-besaran, itu tidak masuk dalam kamusku(betigulah istilah kata orang batak). Hadiahnya paling doa makan malam yang dipimpin bapakku lebih diperjang, hahhaa.. dan menu makanan hari itu agak sedikit beda dibanding menu makan hari biasa.Tapi itu semua sedah membuatku sangat senang...namanya juga anak-anak.
Pernah suatu hari, ketika aku ulang tahun ke-14, mamaku berniat merayakan ulang tahunku katanya, "Bekka, boha molo tarayahon ulang tahunmu?"Aku spontan langsung menjawaab, "Ah, dang olo au mak". Mamaku yang pasti tahu aku akan menolak mulai merayu lagi, dan berkata, " Holan dongan gareja dohot dongan sahuta pe taundang...olo do ho?" Saat itu aku diam saja, mikir lagi, jika benar dirayakan, aku pasti akan dapat hadiah? Ah....aku tidak tertarik batinku lagi. Membayangkan rumah didekorasi dan temen-temanku berbondong-bongdong datang dengan wajah cerianya, mengucap selamat, ada kado dan makan-makan bukan kebiasaanku, bahkan terlintas dalam pikiranku pun tidak pernah. Mungkin itu pula penyebabnya , mengapa aku tidak pernah dapat kado di hari-hari ulang tahunku sebelumnya. Kemudian mamaku berujar lagi, "Ba molo dang olo ho, annon di umur 17 taon ma ate? Akhirnya untuk menyenangkan hati mamaku, aku langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Aku tahu mamaku ingin menyenangkan hatiku, atau mungkin kasihan karena aku tidak pernah nagih yang namanya hadiah ulang tahun.
Bersambung....
Wednesday, December 24, 2008
Tuesday, December 9, 2008
Keakraban antara sepupu
Trus, jam setengah satu masih ngedengarin curhatan sepupuku, Windy, yang baru pulang dari malam mingguan ama bokinnya. Katanya, dia baru putus hubungan dengan pacarnya. Wah…gawat juga neh, baru jalan lima bulan sudah putus? Kasihan Windy dan pacarnya, tapi memang ini sudah keputusan Windy, keputusan baik yang sudah dipikirkan masak-masak dengan berbagai pertimbangan. Malam itu aku hanya bisa beri advice supaya dia kuat dan tegar dan dapat melangkah ke depan dengan lebih baik lagi. Yang jelas dan sungguh nyata adalah, kala itu teman jomloan ada lagi he he…
Kemudian kira-kira jam satuan, sepupuku yang lain, David, baru tiba di rumah. Pikirku, semua anak muda di rumah ini, tiba di rumah selalu larut malam, mungkin karena malam minggu. Saat itu aku sudah di kamarku, sambil latihan lagu-lagu Buku Ende yang akan aku pandu pada hari minggu besok, di kebaktian jam 08.30WIB. Aku yakin, dia pasti akan masuk ke kamarku, hal yang kerap dia lakukan sampai sekarang. Setelah mengetuk pintu kamarku beberapa kali, akhirnya aku menyerah dan membukakan pintu, dan latihanku pun jadi ditunda. Dan seperti biasa, kami pun ngobrol panjang lebar yang diselingi tawa dan candaan. Kemudian sepupuku mengambil gitar yang ada di kamarku, dan dengan pedenya mulai bernyanyi dengan suara jenis tenor tapi fals bukan main. Setiap lagu yang dibawakan tidak pernah pas, tapi karna aku sudah biasa ngedengar suara andalannya itu, aku hanya tersenyum dan mulai memoles dengan suaraku sendiri supaya kedengaran lebih enak he he…
Kadang disaat sedang berduet, aku sering ngeledekin kalau dia paling bisa improvisasi lagu dan dia sangat bangga dengan gurauanku itu. Sepupuku yang satu ini memang pede berkoar-koar jika dihadapanku saja, coba nyanyi dihadapan orang lain, wajahnya yang bak bule kampung itu pasti memerah kayak diserang tawon ha ha…Itu pula alasannya mengapa dia tidak pernah gabung dalam latihan koor, biasanya dia hanya tim hore saja. Sepupuku ini, kaya akan kata-kata candaan, membuat teman-teman semakin betah bersamanya.
Tapi yang membuatku tidak bisa menahan tawa adalah, saat dia mulai merekam suara kami di HPnya. Olala…Dave, dave…tidak ada malunya, alunan suara kami ditengah malam, yang dapat dikatakan duet paling parah sejagad raya sudah terekam. Yang penting ketulusan hati kami bernyanyi, karena yang kami bawakan semuanya lagu-lagu rohani, Tuhan tidak mempersoalkan nada yang melesat jika kita datang menyembahNya dengan bernyanyi pujian dengan sungguh-sungguh. Namun sempat juga terlintas dalam pikiranku untuk merekam hanya suaranya saja pakai MP4ku, yang nantinya aku save ke computernya supaya saban dia buka computer, sudah ada suaranya sendiri yang menghiburnya, atau supaya lebih tengsin aku bisa perdengarkan dihadapan teman-teman he he…iseng banget.
Setelah puas bernyanyi, bukannya langsung tidur tapi malah ngobrol lagi, sebenarnya bisa dibilang sharing karena topik pembicaraannya sudah beda dan lebih seriaus. Ha..! serius..? Kapan David pernah serius? Entahlah…yang jelas, apa yang kami obrolin membawa pembelajaran buat kami. Kami sharing tentang masa depan, tentang perilaku umat manusia, hubungan-hubungan kepada sesama dan bahkan tentang pasangan hidup. Nah, kalau yang kusebutkan paling belakangan, dia sangat antusias, mungkin karena masih sama-sama lajang. Dia sempat bertanya, siapa pria yang saat ini dekat denganku, aku hanya tersenyum, “Kalau sudah waktunya, ntar aku bakal cerita dan membuat kejutan paling indah” Jawabku. Dia hanya cengar-cengir saja. Pukul tiga pagi, kuputuskan untuk mengakhiri obrolan kami, karena dia beberapa kali menguap dan besok pagi aku harus ke gereja. Setengah jam berikutnya, aku masih melanjutkan latihan lagu Buku Ende yang tadi sempat tertunda, lagu yang akan aku pandu besok pagi pada ibadah umum di Gereja HKBP Jatiwaringin tercinta.
Monday, December 1, 2008
Semuanya rencana Tuhan
Dalam minggu belakangan ini, aku membuat diriku bersedih, tidak bersemangat dan merasa tidak dikasihi oleh orang-orang yang aku kasihi. Aku sempat berpikir aku ditinggalkan dan tidak dipedulikan sama sekali, hanya karena sesuatu hal yang kuinginkan dan kurencanakan tidak terjadi. Apakah aku terlalu memaksakan kehendak dan terlalu banyak menuntut? Kadang aku merasa Tuhan sedang menjauh dariku di saat aku ingin mendekat, tapi aku percaya Dia selalu ada didekatku dan memperhatikan segala apa yg terjadi padaku.
Namun tidak selamanya aku kuat dan tegar. Ada saatnya lemah, rapuh dan goyah dan menjadikan suatu masalah menjadi beban berat yang tidak sanggup kupikul. Disinilah aku diuji, seberapa kuatkah aku?
Lalu Tuhan menegurku, ya…Tuhan menegurku lewat buletin Ibadah Khusus (IbSus) muda-mudi HKBP Jatiwaringin, tanggal 30 Novemberber lalu.(Hari itu aku tdk IbSus, aku Ibadah Umum sore dan memungut buletin yg tercecer di bangku-bangku gereja). Di sana ditulis: “Orang bilang, hidup harus terencana. Jadi, kita pun membuat rencana tahunan, bulanan, sampai jadwal harian dan harus berusaha menurutinya. Tak ada yang salah dengan itu. Namun, jika sesuatu membuat kita harus menyimpang dari rencana semula, jangan panik atau marah. Bisa jadi Tuhan ingin menyatakan kehendak dan rencanaNya yang berbeda dengan rencana kita. Belajarlah untuk Peka! Bagi orang beriman tak ada istilah salah jalan sebab kemana pun ia pergi, Tuhan ada di depan”.
Ok! Aku harus belajar lebih peka dan mengerti akan maksud dan tujuan Tuhan dalam hidupku. Akan kubuat diriku bersemangat, tegar dan bersukacita. Aku akan tersenyum menyongsong hari esok, Tuhan ada di depanku. Apalagi minggu ini adalah minggu Advent, menyongsong hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, aku senantiasa bersukacita menyambutNya. Biarlah hatiku dibuka supaya aku datang padaNya dengan tulus, suci dan penuh Kasih.
Monday, November 17, 2008
Lagi sedih banged...
Sedih karna ada kata-kata yang masuk ke telinga kananku, dan ga bisa begitu saja ke luar dari telinga kiriku. Suatu kata-kata atau kalimat yang datang dari orang-orang yang kukasihi, kuhargai dan kuhormati.
Perkataan itu selalu terngiang-ngiang dan ga bisa dielakkan. Mereka mengharapkan sesuatu dariku yang menyenangkan hati mereka tapi sangat sulit kuterima.Tidak biasanya aku begini...Pokoknya ini kuanggap suatu masalah.
Aku diharapkan harus mengambil suatu keputusan dari setiap kata-kata beruntun yang mereka lontarkan, aku sampai terhenyak dan kaget luar biasa. Karna keputusan yang harus secepatnya kuberikan ini menyangkut masa depanku, yah..berkaitan dengan kehidupanku berpulu-puluh tahun ke depan. Tidak cukup seminggu untuk memikirkanya tapi butuh waktu berbulan-bulan sampai aku benar-benar siap. Tapi maukah mereka menunggu? Aku ingin semua ini cepat berlalu dan terselesaikan dengan baik dan bijaksana.
Ah....ingin rasanya mencurahkan semuanya di halaman ini, tapi jemariku enggan menari-nari di tuts ini, maafkan... Mungkin karena ini menyangkut kehidupan pribadi. Karena jujur saja aku seorang pribadi yang tertutup, yang jarang mencurahkan segala perasaannya yang terdalam pada siapapun, dan yang paling tahu hanya Tuhan, karena Dialah sahabat sejatiku yang mengajari dan memberiku banyak hal, tempatku meluangkan waktu setiap saat dan berbagi-bagi cerita, Dia mengerti akan umatNya.
Aku mengalami pergumulan seperti ini karena Dia punya maksud dan tujuan, dan aku ingin tahu apa maksud Tuhan dan apa yang Dia inginkan aku lakukukan dalam kehidupanku.
Oleh karena itu aku harus tegar da sabar, karena Tuhan selalu ada disampingku dan selalu menemaniku dalam setiap langkah hidupku. Tuhan akan membantuku dan memberi petunjuk dan kekuatan bagiku dalam menghadapi segala permasalahan yang datang.
Dan aku juga bersyukur dan berterima kasih padaNya karna kala aku sedih seperti ini, Tuhan datang membantuku dengan menghadirkan sahabat-sahabatku yang selalu memberi dorongan dan dukungan padaku. Thanks buat sobatku Dian, Sisca, Sari...kata2 kalian membawa semangat bagiku teman.., juga kepada kak Ririn, Kak Sanggul dan semua orang-orang yang berperan dalam hidupku yang ga bisa kusebutkan satu-persatu.
Tuhan memberkati kita semua.
Tuesday, October 28, 2008
Antara langit dan bumi
Saturday, October 25, 2008
Ibadah KKR HKBP Jatiwaringin
Monday, September 15, 2008
Saat bangun pagi
Aku hampir bangkit dan mau duduk untuk berdoa, tapi suara lamat-lamat dari radio RPK FM rupanya sudah mendahuluiku untuk mengucapkan doa ucapan Syukur dan Terima kasih serta berkat dari Tuhan. Di radio dengan jelas aku mendengar seseorang yang aku yakini seorang Pendeta memulai doa di pagi hari dan pas banget buat doaku di pagi hari, aku mengikuti dan mengamini doa Amang Pendeta tersebut. Doa yang tidak panjang tapi sangat dalam maknanya, doa ucapan Puji Syukur dan Terima kasih kepada Tuhan karena sudah diberkati saat tidur, doa Berkat supaya diberkati hari ini dalam menjalani hari-hari dalam kehidupan, serta doa minta hikmat dari Tuhan supaya memahami kotbah pagi hari yang sebentar lagi akan disampaikan Amang Pendeta.
Sangat sayang, aku tidak bisa mendengar kotbah tersebut karena aku harus memulai akativitasku di pagi hari sebelum berangkat kerja. Namun disaat sedang dandan, aku sempatkan lagi untuk ngelanjutin mendengarkan kotbah Sang Pendeta, walaupun hanya lima belas menit tapi sangat berarti bagiku sebagai renungan buatku hari ini. Terima kasih Amang Pendeta.