Showing posts with label My days. Show all posts
Showing posts with label My days. Show all posts

Friday, June 17, 2011

Melonjak di Pelangi

Aku melompat melintasi pelangi

Dan meninggalkan ego ku di sini

Terkena realitas

Sebagai kehampaan dan ketakutan

Aku membutuhkan semua keberanianku

Untuk mengambil lompatan raksasa

Untuk terhipnotis dalam mimpi

Pikiranku cepat terlelap


Tapi ketika pelangi yang memberi isyarat

Aku berjalan menembus malam

Aku melompat melintasi pelangi

Dan jatuh ke TERANG itu!

Wednesday, May 18, 2011

Safe am I in the hollow of His hand

Safe am I in the hollow of His hand,

Sheltered o'er with love for evermore.

No ill can harm me, no foe alarm me:

For He keeps both day and naight.

Safe am I in the hollow on His hand.

Sunday, October 18, 2009

Minggu sore yang mencerahkan hati

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.46 WIB, saat yang baik untuk tidur dan terbang ke alam mimpi, apalagi besok hari senin, hari ke-19 di bulan Oktober, juga hari untuk kembali mulai beraktivitas. Namun mata belum berasa ngantuk, masih betah melotot manis, mungkin karena tidur singkatku tadi siang yang sejujurnya bukan suatu kebiasaanku atau mungkin juga karena pengaruh bubur BRD yang baru satu jam yang lalu aku nikmati bersama dua temanku, Sisca dan Elisabeth. Hmm….masih terasa nikmatnya. Aku beranjak dari tempat tidur lalu duduk bersandar di kursi meja computer, pikiranku melayang pada apa yang kualami sebelum aku tiba di rumah, tepatnya tujuh jam sejak berangkat ke gereja. Apakah malam ini aku akan menulis atau merekam tentang apa yang berkecamuk dalam pikiranku ini? Batinku. Biasanya aku akan lebih senang memilih merekam suaraku di mp4. Dengan merekam, waktu yang diperlukan tidak sebanyak waktu dibutuhkan untuk menulis, apalagi ini sudah larut, menulis bisa dilakukan di mana saja. Tapi entah kenapa aku malah memilih untuk menulis, bahkan tidak tanggung-tanggung aku malah ingin menulis langsung di halaman blogku, bukan di buku diary/note seperti biasanya. Ah sudahlah, pikirku, yag penting semua isi pikiran ini dapat tertuang. Akhirnya kuurungkan niatku untuk membuka facebook supaya aku bisa konsentrasi menulis, dan baru kusadari, tanganku sebelah kanan masih memegang erat dua kertas kuning yang tadi aku raih dari tas gereja yang tergeletak di sampingku, warta jemaat dan bulletin Ibsus hari ini. Yah, kedua isi kertas itu telah membuatku menangis saat ibadah sore di gereja HKBP Jatiwaringin.


Tadi, tepat jam 15.25 WIB, aku berangkat ke gereja, sebelumnya aku sudah janji sama temanku, Sisca, akan kebaktian bersama di Ibadah Khusus HKBP Jatiwaringin. Dikarenakan jarak antara rumah dengan gereja tidak begitu jauh, aku pun berangkat dengan tidak terburu-terburu. Lima menit dia atas ojek, pasti cukup untuk menghantarkan aku tepat di pintu gerbang gereja, pikirku. Ketika dalam perjalanan menuju gereja aku menyadari cuaca sore sangat cerah dan aku juga ingin membuat susasana hatiku secerah sore itu. HAtiku tiba-tiba berkata, teguran apa yang akan kuterima dalam ibadahku sore ini? Aku tertunduk, tanganku meraba Alkitab yang ada di tasku dan mulutku berucap lirih mengungkapkan sesuatu padaNya.


Ah, ternyata perkiraanku salah, ketika tiba di gereja dan melintasi area parkiran, lamat-lamat terdengar suara jemaat bernyanyi diiringi musik band. Duh, aku telat! mungkin dua atau tiga menit. Ini pasti nyanyian panggilan beribadah, pikirku. Aku mengarahkan pandangan ke arah beberapa teman yang juga terlambat, ada yang terlihat buru-buru, ada yang sangat santai seolah-olah ibadah belum dimulai, ada yang terlihat mondar-mandir menunggu seseorang seperti yang pernah kulakukan beberapa minggu lalu, namun ada juga seperti diriku yang terlihat tenang saat tiba di depan pintu gereja, mengambil bulletin Ibsus yang sudah disediakan di atas sebuah meja, lalu memasuki ruangan gereja. Mataku tertuju pada bangku-bangku kosong di belakang yang yang tidak jauh dari tempatku berdiri dan kepada setiap jemaat yang belum begitu banyak sedang berdiri menyanyikan lagu pujian penyembahan yang sudah akrab ditelingaku. Hmm…ada yang bersemangat namun ada juga yang tidak. Aku mulai menyusuri bangku-bangku kosong bagian belakang kolom pertama yang kuyakini dalam lima sampai sepuluh menit ke depan akan membludak dipenuhi oleh anak-anak yang terlambat. Kemudian aku menghentikan langkah tepat di bangku barisan tengah yang mayoritas ditempati teman-teman naposo, lalu duduk di bangku, diapit oleh dua teman disebelahku yang tersenyum menyambutku dan melontorkan pertanyaan Sekilas kujawab dengan senyuman dan mulai mengambil sikap untuk berdoa. Setelah itu aku pun berdiri seperti teman-teman yang lain yang masih semangat bernyanyi lagu pujian kepadaNya. Lalu aku mengarahkan pandangan ke altar, tepatnya ke arah Worship Leader berkacamata. Oh,oh… cowok itu terlihat kocak disana, begitu bersemangat, kutahan senyumku, dia sedang berkoar-koar tentang Firman Tuhan sesuai tema lagu. Pandanganku kualihkan kepada tiga singer muda, tim musik dengan full bandnya dan kembali ke arah sosok berkacamata itu, Hmm..dia serius banget, sungguh, dia sedang dipenuhi Roh Kudus, aku pun mengamini kata-katanya. Kemudian aku melihat ke arah liturgis yang berdiri tegak, amang Panggabean yang sudah tidak asing bagiku, trus ke bangku parhalado, yang ditempati dua sintua serta inang Pdt. Maria br. Tampubolon, S.th yang tampak anggun dengan jubah hitamnya dan terlihat manis dan girly dengan model rambut berponi, maklumlah pendeta muda, mungkin umurnya tidak jauh beda dariku, begitulah pikiranku saat kami kenalan setahun yang lalu.


Aku mulai ikut bernyanyi sambil menatap layar di depan, mencoba membaca syair lagu-lagu yang tertera di sana, namun, hah?? Oh..oh..satu kata pun tidak bisa kubaca, terlihat kabur..!! Lho kenapa ini? Diam-diam aku memperhatikan teman disekitarku yang sedang bernyanyi dengan pandangan ke layar tanpa ada masalah. Aku pun menyadari kelemahan fisikku, namun meskipun demikian, biasanya dari bangku barisan tengah masih dapat kubaca, mungkin font size terlalu kecil dan kurang tebal atau memang mata ini yang sudah parah? Hhhh….Lalu aku mengambil bulletin ibsus yang tadi kuletakkan di laci bangku dan bermaksud untuk melihat lagu-lagu dari kertas buletin saja. Bukannya langsung membuka halaman lagunya, mataku malah lebih tertarik membaca halaman utama buletin ibsus, yang biasanya diisi dengan renungan sesuai Nats kotbah hari ini, Keluaran 4:10-17. Aku membaca kalimat paling atas, “Kerjakan saja apa yag menjadi panggilan Tuhan dalam hidupmu, percayalah pasti Tuhan akan memampukan dan menyertai.” Dag dig dug dag…jantungku berpacu cepat. Oh, kalimat itu menamparku, aku belum sanggup membaca kalimat-kalimat di bawahnya…aku yakin keterangan di bawahnya akan sangat mengena kepadaku. Mengapa harus kalimat ini lagi yang harus kubaca dan kudengar? Aku teringat, empat hari yang lalu aku juga sudah membaca nats kotbah hari ini, dan juga kalimat yang hampir persis, namun dalam bahasa batak, “Ulahon ma ulaon na pinasahat ni Debata tu ho!” Aku tahu betul, kalimat ini sangat aku butuhkan saat ini. Dengan penasaran mataku kembali menyusuri kalimat-kalimat menarik yang dimuat dibuletin itu, hatiku terenyah dan bening dimataku kutahan supaya tidak mengalir. Aku teringat akan apa yang terjadi padaku dua minggu belakangan ini. Inikah cara Tuhan menegur dan mengingatkanku? Ah, kuputuskan saja untuk tetap konsentrasi dalam ibadah, soalnya dari kemarin-kemarin juga aku sudah menyadari kalau nats kotbah hari ini akan berarti bagiku. Sekarang tingggal bagaimana aku mengambil keputusan baik dan bertindak sesuai yang Dia inginkan.


Saat mengikuti ibadah, aku menyadari kalau hampir semua lagu mengingatkanku akan beberapa hal yang terjadi dalam hidupku, lagu sebelum votum, “Tinggikan diriMu”, salah satu lagu yang mengiringi langkahku ke tempat kerja beberapa bulan lalu, trus lagu sebelum Hukum Taurat, “Here I am to worship”, lagu yang menemeniku saban aku buka situs blogku, kemudian lagu “Bagai rajawali” dan “Di bawah kepak sayapMu” mengingatkannku akan satu minggu belakangan ini, yang ingin banget melintasi langit biru bagai rajawali bersamaNya dan berlindung di bawah kepak sayapNya dalam mengatasi persoalan hidup ini dan butuh kekuatan dariNya karena kodisiku yang sangat lemah. Dan lagu-lagu lainnya, adalah lagu yang sudah sering aku bawakan dengan petikan gitar sabam malam saat aku sedang suntuk, santai atau, atau ceria. Ketika tiba doa pengakuan dosa, kurasa aku tidak kuat lagi menopang tubuh ini, tubuhku gemetar, aku terlalu kecil dihadapan Tuhan, terlalu banyak dosa yang sudah kami perbuat, aku tidak bisa menahan airmataku lagi dan kubiarkan mengalir begitu saja, aku ingin menumpahkan semuanya. Aku tahu Tuhan sedang memperhatikanku dan melihat betapa lemah anakNya ini. Tapi aku percaya Tuhan sudah mengampuniku dan juga orang-orang yang tak luput kubawakan dalam doa. Dia Allah yang selalu mengerti dan peduli akan keadaan anak-anakNya. Entah kenapa aku merasa diriku mulai bersemangat, yah… semangat yang datang dariNya yang tidak akan meninggalku di saat aku susah dan senang, kepadaNya kubersandar. Saat kembali duduk, diam-diam dengan tidak membuat teman disebelahku curiga, aku merogoh tissue dalam tasku untuk menghapus sisa bening di sela mataku. Pandanganku tertuju kembali ke altar, si Worship Leader berkacamata sedang mengajak kembali bernyanyi, aku tersenyum melihat caranya memuji Tuhan, ini kali ketiga aku melihatnya sebagai WL sejak bergabung dalam tim pelayan Ibsus, namun aku baru menyadari kebolehannya saat dia jadi worship leader di ibadah Diakonia keluarga dua minggu lalu. Dia punya karunia bakat dan keunikan sendiri, sama seperti WL lainnya di Ibsus muda/ i HKBP Jatiwaringin.


Ibadah masih berjalan dengan lancar, meskipun tidak dapat dipungkiri teman-teman ada yang tidak dapat menahan hasrat untuk tidak mengobrol dan berbisik-bisik yang tentunya dapat mengganggu konsentrasi jemaat yang beribadah. Dan aku pun baru sadar kalau sosok temanku, Sisca, belum tampak. Dimana dia? Apa sudah duduk di salah satu bangku di belakangku? Ah, tanpa kehadiran sahabat pun aku bisa ibadah sendiri, biar lebih konsentrasi, dan sebenarnya inilah yang kubutuhkan saat ini: ingin sendiri!! Sorry friend.


Kotbah inang pendeta yang kutunggu-tunggu, terasa menyadarkanku lagi. Aku memposisikan diriku seperti nabi Musa yang merasa tidak mampu menjalankan tugas yang Tuhan percayakan kepada Musa, padahal TUHAN mengatakan kalau Musa akan selalu dalam penyertaanNya dan menghadirkan Harun untuk membantu Musa dalam menjalankan tugas yang Tuhan perintahkan. Aku berpikir apakah ada jemaat yang hadir mempunyai masalah yang sama denganku? Aku berharap aku bisa seperti Musa yang akhirnya sadar dan kemudian mejalankan tugas panggilan Tuhan. Kembali aku membaca renungan yang ada buletin ibsus dan menghubungkannya dengan kotbah inang pendeta. Suara-suara itu lagi-lagi menegurku, aku menahan airmataku supaya tidak jatuh lagi, duh! Aku merasa dua minggu ini, diriku cengeng banget, bawaanya menangis mulu, hanya karena suatu hal yang kurasa tidak mampu kulakukan, baik dalam dunia kerja maupun dalam aktivitasku yang lain, padahal di sisi lain banyak orang yang sangat membutuhkanku di lingkungan kerjaku, di keluarga dan pelayananku. Aku butuh motivasi, butuh perhatian, butuh dorongan untuk membuatku semakin optimis dan percaya diri dalam menjalankan tugasku. And now, aku akan bangkit. Tuhan akan mendapingiku. Aku tahu apa pun yang terjadi dalam hidup ini ada penyebanya dan jika itu satu hal yang dapat dikategorikan suatu masalah, aku yakin semua itu pasti bisa diselasaikan dengan baik dan bijaksana karena Tuhan Maha pengasih dan penolong yang tiada duanya.


Saat persembahan ke-2 yang dihantarkan ke depan untuk korban bencana alam/gempa di Sumatera Barat, Padang, aku tertegun mendengar syair lagunya yang diambil dari Buku Ende no. 522, “Surgoi sambulonta do i”, lagu berbahasa batak yang menghibur hati, bahwa di dalam Kerajaan Sorga penuh dengan puji-pujian kepadaNya dan tidak ada penderitaan. Lagu yang bertentangan dan sengaja dihubungkan dengan kondisi bangsa Indonesia yang penuh goncangan/penderitaan, khususnya saat ini, untuk para korban bencana alam di Sumatera Barat, Padang. Aku berharap para korban bencana alam secepatnya mendapat bantuan, penghiburan serta pemulihan, baik jasmani maupun rohani.


Usai ibadah, aku baru sadar, niatku untuk merekam satu dua lagu terlupakan…Kuakui merekam sudah menjadi kebiasaanku. Meskipun begitu, aku tetap senang dan tersungging sendiri, karena tadi, diam-diam aku sempat merekam suatu hal yang lebih menarik perhatianku. Mudah-mudahan saja tidak ada yang memperhatikanku. Dan aku memang yakin teman-teman tidak akan ada yang tahu, mereka hanya tahu, bahwa aku merekam lagu-lagunya saja, padahal ada hal lain yang kurekam tanpa mereka sadari. Ini sudah kesekian kali aku merekamnya, dan semua itu sudah tersimpan rapi di mp4 yang selalu setia menemani dan menghiburku. Apakah itu? Lebih baik tidak kubeberkan di halaman ini, secret! Hahhahaa…Yang tahu hanya aku dan Tuhan. Kemudian aku menyalami teman-teman, dan teman-teman yang lain pun saling bersalaman mengucapakan selamat hari minggu, aku senang melihat kegembiraan di wajah mereka, begitu ceria dan menyenangkan. Aku ikut berbaur dengan mereka dan mengobrol apa adanya dan berharap mereka semua mendapatkan sesuatu yang baru dalam ibadah yang baru saja usai. Kemudian aku keluar melalui pintu samping gereja dan berdiri di koridor samping. Aku berniat menelepon temanku yang belum kelihatan batang hidungnya, padahal kami ada rencana usai ibadah akan langsung menghadiri acara resepsi pernikahan teman. Namun pada akhirnya aku memilih untuk tetap di geraja saja karena ternyata, ada rapat naposo untuk memastikan apakah NHKBP Jatiwaringin ikut berpartisipasi dalam pesparawi di HKBP Pasar Rebo. Aku berharap niat kami untuk ikut memang tulus, salah satu cara kami untuk datang dan makin dekat denganNya, namun dibutuhkan komitmen dan keseriusan serta kedisplinan untuk berlatih sesuai jadwal yang sudah ditentukan, apalagi waktu latihan hanya tinggal enam minggu lagi. kita lihat saja, bagaimana akhirnya? Ini tergantung pada pribadi setiap naposo, sedangkan aku, dari awal memang sudah komit, dan tetap berserah padaNya.


Sepuluh menit sebelum rapat usai, temanku, Sisca muncul dengan penampilan yang menawan, aku tersenyum menyambutnya, dia minta maaf dan mengajakku untuk makan malam di luar sebagai ganti acara resepsinya. Seusai rapat kami masih ngobrol-ngobrol di corner dengan beberapa teman naposo yang masih tinggal. Setengah jam kemudian kami beranjak meninggalkan gereja dan mengajak teman kami yang lain, Elisabeth, untuk turut bergabung makan malam di BRD, warung tenda pavorit anak NHKBP Jatiwaringin. Biasanya dua teman kami yang lain, Melda dan Dian turut ikut, tapi Melda sedang menghadiri acara resepsi teman yang batal kami hadiri malam ini, sedangkan Dian sedang berduka, opung kesayangnannya telah lebih dulu berpulang. Di BRD, sambil menikmati bubur yang sudah di pesan, kami mengobrol tentang berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan ini, namanya juga cewek pasti ada saja hal menarik yang dibicarakan, kami tertawa dan kadang saling meledek satu sama lain. Banyak hal yang kudapat malam itu, sesuatu yang tadinya aku tidak tahu jadi aku tahu serta ada juga yang membawa pemahaman baru bagiku, kuanggap positif. Pokoknya malam itu, kami membuat diri kami senang, seolah-olah tidak ada beban, dan aku benar-benar menikmatinya. Aku bersyukur padaNya, telah menghadirkan teman-teman yang begitu baik disekitarku. Dan aku tahu Tuhan sedang memperhatikan kami, melihat tiga cewek jomlo yang cekakak-cekikik kesenangan sedang membicarakan cowok. Aku berpikir kapan rencana Tuhan terjadi bagi kami perihal jodoh? Aku memperhatikan wajah kedua temanku, wajah yang mengharapkan kehadiran seorang kekasih dalam hidupnya, sama sepertiku, hehhehee..


Kalau saja hari masih sore kami masih akan betah berlama-lama disana, tapi ini sudah larut. Lalu atas keputusan bersama kami pun segera pulang dengan wajah ceria. Hm, minggu yang luar biasa pikirku, tak menyangka dalam tujuh jam yang kujalani barusan, membuatku semakin bersyukur bahwa Kasih Tuhan kepada umatNya sungguh luar biasa, Dia tidak pernah meningggalkan anak-anakNya, meskipun ada suka duka, inilah cara Tuhan untuk kita sadar dan belajar bagaimana hidup yang benar di hadapan Tuhan. Thanks God untuk setiap hari yang kujalani.

Monday, August 10, 2009

Ulang tahunku

"Happy birthday rebekka...", "Happy birthday bekka..." itulah kata-kata menyenangkan yang kudengarkan hari ini, ucapan selamat berdatangan via SMS dan bahkan dari Facebook yang ga kalah banyaknya, baik dari keluarga, temen-teman dan saudaraku yang lain. Sungguh luar biasa, aku sampai terharu...aku tahu ini bentuk pengasihan, peduli mereka padaku. Aku tidak bisa tidak mengatakan aku akan melupakan semua ini, pasti akan selalu kuingat sebagai bentuk penghargaanku , hormatku dan kasihku pada teman-temanku. Ucapan selamat serta doa-doa mereka sangatlah berarti bagiku, kiranya Tuhan mengabulkannya sesuai kehendakNya. Terima kasih kepada teman-teman biarlah juga segala harapan dan impian mereka dapat tercapai. Tentunya secara pribadi aku juga berdoa kepada Tuhan tentang hari-hari yang sudah kujalani, apa yang sudah kuperbuat untukNya dan kedepanNya bagaimana? Biarlah kiranya Tuhan menyinari hatiku dengan Terang Roh KudusNya supaya aku selalu bersyukur, berterima kasih atas apa yang telah kudapatkan, tetap kuat dan dapat menjalani kehidupan ini sesuai keinginanNya. Dan pastinya, doa tentang segala harapan tidak akan pernah luput, tetap akan slalu kusampaikan padaNya sebagai bentuk kepercayanku padaNya.

Karena hari ini, hari ulang tahunku mungkin akan sangat menarik bila aku sedikit berbagi-bagi cerita tentang mengapa aku begitu peduli dengan ucapan "selamat hari ulang tahun". Berawal dari sejak aku masih anak-anak. Ketika masih duduk di bangku SD, aku yang hobby membaca sering membuka dan membaca buku agenda bapakku yang disimpan di laci lemari. Catatan-catatan penting dalam buku itu sering aku baca yang salah satunya catatan mengenai data-data kami sekeluarga, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Lalu aku menghafal hari-hari kelahiran kami dan memberitahu kepada saudara-saudara untuk saling mengingatkan jika hari ulang tahunnya sudah tiba. Namun walaupun begitu, tetap saja kita kadang lupa hhehe...tapi jika tidak sedang lupa, bukan berarti akan ada hadiah ulang tahun apalagi perayaan besar-besaran, itu tidak masuk dalam kamusku(betigulah istilah kata orang batak). Hadiahnya paling doa makan malam yang dipimpin bapakku lebih diperjang, hahhaa.. dan menu makanan hari itu agak sedikit beda dibanding menu makan hari biasa.Tapi itu semua sedah membuatku sangat senang...namanya juga anak-anak.

Pernah suatu hari, ketika aku ulang tahun ke-14, mamaku berniat merayakan ulang tahunku katanya, "Bekka, boha molo tarayahon ulang tahunmu?"Aku spontan langsung menjawaab, "Ah, dang olo au mak". Mamaku yang pasti tahu aku akan menolak mulai merayu lagi, dan berkata, " Holan dongan gareja dohot dongan sahuta pe taundang...olo do ho?" Saat itu aku diam saja, mikir lagi, jika benar dirayakan, aku pasti akan dapat hadiah? Ah....aku tidak tertarik batinku lagi. Membayangkan rumah didekorasi dan temen-temanku berbondong-bongdong datang dengan wajah cerianya, mengucap selamat, ada kado dan makan-makan bukan kebiasaanku, bahkan terlintas dalam pikiranku pun tidak pernah. Mungkin itu pula penyebabnya , mengapa aku tidak pernah dapat kado di hari-hari ulang tahunku sebelumnya. Kemudian mamaku berujar lagi, "Ba molo dang olo ho, annon di umur 17 taon ma ate? Akhirnya untuk menyenangkan hati mamaku, aku langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Aku tahu mamaku ingin menyenangkan hatiku, atau mungkin kasihan karena aku tidak pernah nagih yang namanya hadiah ulang tahun.

Bersambung....

Wednesday, December 24, 2008

Tuesday, December 9, 2008

Keakraban antara sepupu

Beberapa bulan lalu, tepatnya tangggal 29 Juni, hari minggu, aku bangun pukul 04.30WIB. Masih subuh, padahal baru satu jam yang lalu aku memejamkan mata. Berarti tidurku hanya satu jam. Lho kok? Tadi malam aku tiba di rumah hampir jam dua belas malam, pulang kerja aku mampir ke super market belanja bahan-bahan makanan untuk menu makanan hari minggu (biasa, hari minggu ga ada catering).
Trus, jam setengah satu masih ngedengarin curhatan sepupuku, Windy, yang baru pulang dari malam mingguan ama bokinnya. Katanya, dia baru putus hubungan dengan pacarnya. Wah…gawat juga neh, baru jalan lima bulan sudah putus? Kasihan Windy dan pacarnya, tapi memang ini sudah keputusan Windy, keputusan baik yang sudah dipikirkan masak-masak dengan berbagai pertimbangan. Malam itu aku hanya bisa beri advice supaya dia kuat dan tegar dan dapat melangkah ke depan dengan lebih baik lagi. Yang jelas dan sungguh nyata adalah, kala itu teman jomloan ada lagi he he…
Kemudian kira-kira jam satuan, sepupuku yang lain, David, baru tiba di rumah. Pikirku, semua anak muda di rumah ini, tiba di rumah selalu larut malam, mungkin karena malam minggu. Saat itu aku sudah di kamarku, sambil latihan lagu-lagu Buku Ende yang akan aku pandu pada hari minggu besok, di kebaktian jam 08.30WIB. Aku yakin, dia pasti akan masuk ke kamarku, hal yang kerap dia lakukan sampai sekarang. Setelah mengetuk pintu kamarku beberapa kali, akhirnya aku menyerah dan membukakan pintu, dan latihanku pun jadi ditunda. Dan seperti biasa, kami pun ngobrol panjang lebar yang diselingi tawa dan candaan. Kemudian sepupuku mengambil gitar yang ada di kamarku, dan dengan pedenya mulai bernyanyi dengan suara jenis tenor tapi fals bukan main. Setiap lagu yang dibawakan tidak pernah pas, tapi karna aku sudah biasa ngedengar suara andalannya itu, aku hanya tersenyum dan mulai memoles dengan suaraku sendiri supaya kedengaran lebih enak he he…
Kadang disaat sedang berduet, aku sering ngeledekin kalau dia paling bisa improvisasi lagu dan dia sangat bangga dengan gurauanku itu. Sepupuku yang satu ini memang pede berkoar-koar jika dihadapanku saja, coba nyanyi dihadapan orang lain, wajahnya yang bak bule kampung itu pasti memerah kayak diserang tawon ha ha…Itu pula alasannya mengapa dia tidak pernah gabung dalam latihan koor, biasanya dia hanya tim hore saja. Sepupuku ini, kaya akan kata-kata candaan, membuat teman-teman semakin betah bersamanya.
Tapi yang membuatku tidak bisa menahan tawa adalah, saat dia mulai merekam suara kami di HPnya. Olala…Dave, dave…tidak ada malunya, alunan suara kami ditengah malam, yang dapat dikatakan duet paling parah sejagad raya sudah terekam. Yang penting ketulusan hati kami bernyanyi, karena yang kami bawakan semuanya lagu-lagu rohani, Tuhan tidak mempersoalkan nada yang melesat jika kita datang menyembahNya dengan bernyanyi pujian dengan sungguh-sungguh. Namun sempat juga terlintas dalam pikiranku untuk merekam hanya suaranya saja pakai MP4ku, yang nantinya aku save ke computernya supaya saban dia buka computer, sudah ada suaranya sendiri yang menghiburnya, atau supaya lebih tengsin aku bisa perdengarkan dihadapan teman-teman he he…iseng banget.
Setelah puas bernyanyi, bukannya langsung tidur tapi malah ngobrol lagi, sebenarnya bisa dibilang sharing karena topik pembicaraannya sudah beda dan lebih seriaus. Ha..! serius..? Kapan David pernah serius? Entahlah…yang jelas, apa yang kami obrolin membawa pembelajaran buat kami. Kami sharing tentang masa depan, tentang perilaku umat manusia, hubungan-hubungan kepada sesama dan bahkan tentang pasangan hidup. Nah, kalau yang kusebutkan paling belakangan, dia sangat antusias, mungkin karena masih sama-sama lajang. Dia sempat bertanya, siapa pria yang saat ini dekat denganku, aku hanya tersenyum, “Kalau sudah waktunya, ntar aku bakal cerita dan membuat kejutan paling indah” Jawabku. Dia hanya cengar-cengir saja. Pukul tiga pagi, kuputuskan untuk mengakhiri obrolan kami, karena dia beberapa kali menguap dan besok pagi aku harus ke gereja. Setengah jam berikutnya, aku masih melanjutkan latihan lagu Buku Ende yang tadi sempat tertunda, lagu yang akan aku pandu besok pagi pada ibadah umum di Gereja HKBP Jatiwaringin tercinta.

Monday, December 1, 2008

Semuanya rencana Tuhan

Hari ini, hari pertama di bulan Desember 2008, cuaca lumayan cerah, bertentangan dengan suasana hatiku yang kurang menyenangkan. Aku harap besok sudah lebih baik. Sebagai manusia tidak sempurna, aku kadang bingung dengan kejadian yang kualami saat ini, semuanya sangat di luar dugaanku, dan ga pernah kebayang. Aku punya harapan, rencana dan keinginan tapi Tuhan berencana lain. Aku tahu Tuhan punya maksud dan tujuan kenapa semua ini harus terjadi dan kualami dalam hidupku.
Dalam minggu belakangan ini, aku membuat diriku bersedih, tidak bersemangat dan merasa tidak dikasihi oleh orang-orang yang aku kasihi. Aku sempat berpikir aku ditinggalkan dan tidak dipedulikan sama sekali, hanya karena sesuatu hal yang kuinginkan dan kurencanakan tidak terjadi. Apakah aku terlalu memaksakan kehendak dan terlalu banyak menuntut? Kadang aku merasa Tuhan sedang menjauh dariku di saat aku ingin mendekat, tapi aku percaya Dia selalu ada didekatku dan memperhatikan segala apa yg terjadi padaku.
Namun tidak selamanya aku kuat dan tegar. Ada saatnya lemah, rapuh dan goyah dan menjadikan suatu masalah menjadi beban berat yang tidak sanggup kupikul. Disinilah aku diuji, seberapa kuatkah aku?
Lalu Tuhan menegurku, ya…Tuhan menegurku lewat buletin Ibadah Khusus (IbSus) muda-mudi HKBP Jatiwaringin, tanggal 30 Novemberber lalu.(Hari itu aku tdk IbSus, aku Ibadah Umum sore dan memungut buletin yg tercecer di bangku-bangku gereja). Di sana ditulis: “Orang bilang, hidup harus terencana. Jadi, kita pun membuat rencana tahunan, bulanan, sampai jadwal harian dan harus berusaha menurutinya. Tak ada yang salah dengan itu. Namun, jika sesuatu membuat kita harus menyimpang dari rencana semula, jangan panik atau marah. Bisa jadi Tuhan ingin menyatakan kehendak dan rencanaNya yang berbeda dengan rencana kita. Belajarlah untuk Peka! Bagi orang beriman tak ada istilah salah jalan sebab kemana pun ia pergi, Tuhan ada di depan”.
Ok! Aku harus belajar lebih peka dan mengerti akan maksud dan tujuan Tuhan dalam hidupku. Akan kubuat diriku bersemangat, tegar dan bersukacita. Aku akan tersenyum menyongsong hari esok, Tuhan ada di depanku. Apalagi minggu ini adalah minggu Advent, menyongsong hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, aku senantiasa bersukacita menyambutNya. Biarlah hatiku dibuka supaya aku datang padaNya dengan tulus, suci dan penuh Kasih.

Monday, November 17, 2008

Lagi sedih banged...

Aku lagi sedih banged neh...hu hu...
Sedih karna ada kata-kata yang masuk ke telinga kananku, dan ga bisa begitu saja ke luar dari telinga kiriku. Suatu kata-kata atau kalimat yang datang dari orang-orang yang kukasihi, kuhargai dan kuhormati.
Perkataan itu selalu terngiang-ngiang dan ga bisa dielakkan. Mereka mengharapkan sesuatu dariku yang menyenangkan hati mereka tapi sangat sulit kuterima.Tidak biasanya aku begini...Pokoknya ini kuanggap suatu masalah.
Aku diharapkan harus mengambil suatu keputusan dari setiap kata-kata beruntun yang mereka lontarkan, aku sampai terhenyak dan kaget luar biasa. Karna keputusan yang harus secepatnya kuberikan ini menyangkut masa depanku, yah..berkaitan dengan kehidupanku berpulu-puluh tahun ke depan. Tidak cukup seminggu untuk memikirkanya tapi butuh waktu berbulan-bulan sampai aku benar-benar siap. Tapi maukah mereka menunggu? Aku ingin semua ini cepat berlalu dan terselesaikan dengan baik dan bijaksana.
Ah....ingin rasanya mencurahkan semuanya di halaman ini, tapi jemariku enggan menari-nari di tuts ini, maafkan... Mungkin karena ini menyangkut kehidupan pribadi. Karena jujur saja aku seorang pribadi yang tertutup, yang jarang mencurahkan segala perasaannya yang terdalam pada siapapun, dan yang paling tahu hanya Tuhan, karena Dialah sahabat sejatiku yang mengajari dan memberiku banyak hal, tempatku meluangkan waktu setiap saat dan berbagi-bagi cerita, Dia mengerti akan umatNya.
Aku mengalami pergumulan seperti ini karena Dia punya maksud dan tujuan, dan aku ingin tahu apa maksud Tuhan dan apa yang Dia inginkan aku lakukukan dalam kehidupanku.
Oleh karena itu aku harus tegar da sabar, karena Tuhan selalu ada disampingku dan selalu menemaniku dalam setiap langkah hidupku. Tuhan akan membantuku dan memberi petunjuk dan kekuatan bagiku dalam menghadapi segala permasalahan yang datang.
Dan aku juga bersyukur dan berterima kasih padaNya karna kala aku sedih seperti ini, Tuhan datang membantuku dengan menghadirkan sahabat-sahabatku yang selalu memberi dorongan dan dukungan padaku. Thanks buat sobatku Dian, Sisca, Sari...kata2 kalian membawa semangat bagiku teman.., juga kepada kak Ririn, Kak Sanggul dan semua orang-orang yang berperan dalam hidupku yang ga bisa kusebutkan satu-persatu.
Tuhan memberkati kita semua.

Tuesday, October 28, 2008

Antara langit dan bumi

Salah satu dari sekian banyak kebiasaan yang kulakukan saat sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja, adalah mendongak mengarahkan pandangan ke atas nun jauh disana, si langit biru... yang terasa begitu dekat di mata, dengan dihiasi awan putih dan abu-abu dengan berbagai macam bentuk, sungguh indah dan selalu menarik perhatianku. Disana ada kedamaian, ada keteduhan, ada kenyamanan, ingin rasanya berlindung disana.
Sejenak aku bisa melupakan segala sesuatu yang terjadi disekitarku, baik itu suka maupun duka. Aku tahu Tuhan sedang memperhatikanku, menatapku dan tersenyum padaku, lalu aku bersyukur dan berterima kasih padaNya atas ciptaanNya yang begitu sempurna, tanpa langit yang indah dan segala benda yang menghiasinya takkan mungkin UmatNya hidup di dunia. Tapi Tuhan Maha baik dan berkuasa, Dia merencanakan dan menyempurnakan semua ciptaaanNya, sehingga manusia sebagai ciptaanNya yang istimewa boleh menikmati dan merasakan ciptaanNya yang lain. Terima kasih Tuhan atas segala ciptaan dan pemberianMu kepada kami umatMu.
Kemudian aku mengarahkan pandangan ke sekitarku, sangat kontras dengan keadaan di atas sana. Di sepanjang ruas jalan yang kulalui terjadi kemacetan, hal yang sudah biasa terjadi namun menjemukan. Pada saat di lampu merah, pandanganku tertuju kepada sosok-sosok lusuh, yang lalu lalang bebas berdendang mengitari mobil-mobil mewah yang kadang dibalas dengan lambaian koin maupun lambaian kosong, sungguh memprihatinkan. Sedangkan pengendara sepeda motor seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar, yang penting sudah berada pada barisan paling depan, ancang-ancang dengan pedal gas bak pembalab motor GP, jika lampu sudah berganti warna hijau.
Kadang aku tersenyum jika ada kejadian konyol terjadi di jalanan, seperti jika seorang sopir mengumpat karena kendaraannya disalib, atau ekspresi riang seorang pengamen yang mendapat rezeki karena lambaian sepuluh ribuan atau Pak polisi dengan pluitnya berusaha menilang kendaraan yang melanggar peraturan. Kadang-kadang aku juga berempati melihat orang-orang yang lalu lalang, mereka sangat cuek, sangat tergesa-gesa, aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan namun semuanya sangat sibuk atau pura-pura sibuk he he...Tapi ada juga yang numbeng(Numpang Bengong) di halte dengan berbagai ekspresi, misalnya manyun...hue he he...entah permasalahan apa yang mereka hadapi, biarlah mereka menghadirkan Tuhan dalam hidupnya.
Ah... ini hanya segelintir dari sekian banyak kejadian yang terjadi disekitarku. Mungkin besok aku akan melihat kejadian yang lebih memprihatinkan lagi atau bahkan yang lebih menyenangkan, suka duka selalu ada. Tapi yang tidak dapat dipungkiri kota metropolitan ini adalah kesenjangan sosial yang begitu sangat ketara selalu terjadi dimana-mana.
Antara langit dan bumi memang sungguh berbeda.

Saturday, October 25, 2008

Ibadah KKR HKBP Jatiwaringin

Hari ini Sabtu, 25 Oktober 2008, aku akan ikut Ibadah KKR Di Gereja pada pukul enam sore. Ibadah ini mengambil tema "Beritakanlah Injil ke semua mahluk" dengan pembicara Pdt. Dr. Richard Daulay - Sekum PGI. Aku belom tahu seperti apa tertib acara ibadahnya, tapi aku punya gambaran ibadahnya akan sangat menarik. Aku berharap ibadah ini akan menambah pengetahuanku, juga para jemaat HKBP Jatiwaringin dalam mengetahui kebenaran-kebenaran Tuhan, sehingga misi kami memberitikan injil ke semua orang tersampaikan dengan baik, karena inilah salah satu tujuan Tuhan menciptakan umatNya di dunia ini.
Rencananya sepulang kerja aku akan langsung melangkahkan kakiku ke gereja. Aku berpikir dengan mengajak teman-teman akan lebih baik, akhirnya aku nge-sms mereka, Donna dan Dian, dan setelah aku sms, mereka pun setuju dan janji saling ketemuan di geraja, senang rasanya. Sedangkan dua sepupuku, Windy dan David yang juga aku ajak, sepertinya punya urusan masing-masing padahal aku sangat mengharapkan kedatangan mereka.
Oke...aku akan menikmati ibadah ini, karena inilah yang kuinginkan dan kuharapkan. Biasanya HKBP jarang mengadakan acara yang seperti ini, dan ini merupakan kesempatan bagus buatku dan juga bagi jemaat HKBP Jatiwaringin yang kusayangi.

Monday, September 15, 2008

Saat bangun pagi

Tadi pagi aku terjaga tepat pukul 05.00 subuh karena bunyi weker dan suara dari radio RPK FM, yang kadang kubiarkan nyala. Walaupun tubuh tidak langsung bangun tapi otak di dalam kepalaku ini sudah bangun. Masih dalam posisi berbaring dengan mata masih merem, aku mencoba membuka pikiranku, dan ingat hari sudah subuh dan aku hari ini harus masuk pagi.

Aku hampir bangkit dan mau duduk untuk berdoa, tapi suara lamat-lamat dari radio RPK FM rupanya sudah mendahuluiku untuk mengucapkan doa ucapan Syukur dan Terima kasih serta berkat dari Tuhan. Di radio dengan jelas aku mendengar seseorang yang aku yakini seorang Pendeta memulai doa di pagi hari dan pas banget buat doaku di pagi hari, aku mengikuti dan mengamini doa Amang Pendeta tersebut. Doa yang tidak panjang tapi sangat dalam maknanya, doa ucapan Puji Syukur dan Terima kasih kepada Tuhan karena sudah diberkati saat tidur, doa Berkat supaya diberkati hari ini dalam menjalani hari-hari dalam kehidupan, serta doa minta hikmat dari Tuhan supaya memahami kotbah pagi hari yang sebentar lagi akan disampaikan Amang Pendeta.

Sangat sayang, aku tidak bisa mendengar kotbah tersebut karena aku harus memulai akativitasku di pagi hari sebelum berangkat kerja. Namun disaat sedang dandan, aku sempatkan lagi untuk ngelanjutin mendengarkan kotbah Sang Pendeta, walaupun hanya lima belas menit tapi sangat berarti bagiku sebagai renungan buatku hari ini. Terima kasih Amang Pendeta.