Seribu lilin
Nyatakan di tengah dunia
Biar sinarnya
Menyatakan kemuliaan sorga
Wartakan kepada dunia
Kabar sukacita
T'lah lahir Yesus
Penebus jurus'lamat kita
Hai bintang indah Betlehem
Kiranya sinarMu
Bawa harapan dan damai
Bahagia di kalbu
KehangatanMu kirimkan
Di hari yang beku
Kehangatan kasih Tuhan
Di natal yang syahdu.
Thursday, December 16, 2010
Wednesday, December 1, 2010
SUARA HATI HAWA
Wahai sang jiwa yang misterius
Bila rindu nan kelabu
Menayang hati dan pikirku
Menggelitik alam bawah sadarku
Isi hatiku dengan senyummu
Biar bersinar mataku sendu
Biar berbinar gelakku rayu
Bila rindu nan kelabu
Menayang hati dan pikirku
Menggelitik alam bawah sadarku
Isi hatiku dengan senyummu
Biar bersinar mataku sendu
Biar berbinar gelakku rayu
Thursday, October 7, 2010
HIDUP SELALU BERPUTAR
Benarkah hidup manusia selalu berputar? Dengan kata lain, jika sekarang ia menangis, maka nanti akan berganti menjadi tawa? Jika sekarang ia susah, maka nanti dia akan menikmati kehidupan yang lebih baik. Pernyataan seperti ini sering muncul di tengah kehidupan orang Kristiani. Banyak sekali orang memakai ungkapan ini seolah-olah bermaksud ingin memberikan penguatan. Betul mungkin jika hal ini dimaksudkan demikian, namun jika ungkapan ini kita sampaikan kepada orang kaya dengan berkata; “sekarang anda kaya, nanti pasti akan miskin karena hidup selalu berputar”. Saya pastikan yang akan terjadi adalah perkelahian.Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan saudara. Seorang jemaat pernah berkata kepada saya, pak Pendeta, sekali-kali dengar kotbah dong sebagai jemaat, jangan ngotbahin orang terus. Saat itu hati saya sedikit tersinggung, penafsiran saya langsung ke arah negatif, jangan-jangan jemaat ini sudah tidak lagi berkenan dengan kotbah saya. Lalu saya beranikan diri untuk bertanya kenapa beliau berkata demikian, dia jawab; “bukankah dengan pernah menjadi jemaat, maka pak Pendeta akan lebih banyak memahami seperti apa jemaat itu? Dan bukankah dengan menjadi jemaat pak Pendeta juga akan melakukan apa yang pak Pendeta kotbahkan selama ini?” Saat itu, jawaban itu hanya saya simpan dalam hati tanpa ingin memperpanjang. Setelah kembali ke rumah, lalu saya berfikir, mungkin apa yang beliau katakan itu benar. Lalu minggu-minggu selanjutnya, meskipun selesai berkotbah dalam suatu kebaktian minggu, saya selalu mencoba mencari tempat lain dimana saya bisa mendengar kotbah untuk memposisikan diri sebagai jemaat. Dan pola fikir saya terbuka, akhirnya saya buktikan sendiri bahwa sering ternyata ketika Pendeta kotbah, kritik akan kotbah tersebut terlontar dari jemaat, namun karena jarak antara jemaat dan Pendeta begitu jauh, maka tentu Pendeta tidak mendengar. Saya juga melihat betapa gelisahnya beberapa jemaat ketika Pendeta kotbah dengan panjang. Dan saya belajar dari pengalaman itu.
Saya bukan ingin berkata, saudara harus melakukan seperti apa yang saya lakukan dimana ketika kita menjadi orang kaya, maka kita harus memposisikan diri terlebih dahulu jadi orang miskin untuk mengetahui bagaimana rasanya, saya yakin banyak orang yang tidak mau melakukannya. Tapi hendaknya pernyataan “hidup manusia itu selalu berputar” akan menjadikan manusia memiliki pengendalian diri yang baik dalam kehidupannya. Ketika ia kaya, maka ia harus mengendalikan dirinya dan mengingat bahwa jika tidak mengendalikan diri, maka bisa saja ia nanti akan jatuh miskin. Begitu juga dengan orang yang saat ini miskin juga harus mengendalikan dirinya sebab jika tidak, dia akan mengandalkan segala cara supaya bisa kaya meski harus jatuh ke dalam dosa. Saya pun demikian, ketika saya berkotbah, saya harus mengendalikan diri agar saya jangan jadi batu sandungan bagi jemaat, dan ketika saya menjadi jemaat, harus mengendalikan diri agar saya tidak pulang dengan sia-sia dari rumah Tuhan setiap minggunya.
Selamat merenung akan “hidup selalu berputar”.
Salam : Pdt. Tonggo sitompul
Friday, October 1, 2010
HURIA NA HUHAHOLINGI HAMI
Huria na huhaholongi hami
na pinajongjong Ni Tuhanta i
Tung na so muba sian roha nami
Huria dohot Ruas na i
Dinasa hasusahaan
tongtong do i manahan
manggogo pe angka galumbangi
Tuhanta do na pademakhon i
Martua ma na hot di Tuhan i
SDJ 651:1
na pinajongjong Ni Tuhanta i
Tung na so muba sian roha nami
Huria dohot Ruas na i
Dinasa hasusahaan
tongtong do i manahan
manggogo pe angka galumbangi
Tuhanta do na pademakhon i
Martua ma na hot di Tuhan i
SDJ 651:1
Jakartaku
Jakarta, 22 September
Udara pucat
angin bertiup lambai
Dua tiga tetes gerimis
menjelma menjadi guyuran
Dingin jua membekukan
Matahari seolah gugur
diganti indah senja temaran
Dan mata pun beranjak redup
Udara pucat
angin bertiup lambai
Dua tiga tetes gerimis
menjelma menjadi guyuran
Dingin jua membekukan
Matahari seolah gugur
diganti indah senja temaran
Dan mata pun beranjak redup
Saturday, June 5, 2010
JANGAN MENGHAKIMI BILA TIDAK INGIN DIHAKIMI
Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi. (Matius 7:1,2)
Yesus menyuruh kita untuk menyelidiki motif-motif dan tingkah laku kita dari pada menghakimi orang lain. Sifat-sifat orang lain yang menjengkelkan sering kali justru merupakan kebiasaan-kebiasaan kita juga yang tidak kita sukai. Kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang tidak terkontrol, dan pola-pola perilaku kita yang buruk adalah sifat-sifat yang ingin kita ubahkan pada diri orang lain. Apakah mudah bagi memperbesar-besarkan kesalahan orang lain, sementara kita memaafkan diri kita untuk kesalahan yang sama? Bila kita sedang bersiap-siap mengkritik seseorang, mari memeriksa diri kita untuk mengetahui apakah kita juga bersedia menerima kritikian yang sama.
Hakimilah diri sendiri dulu, kemudian dengan kasih ampuni dan bantulah orang lain
Yesus menyuruh kita untuk menyelidiki motif-motif dan tingkah laku kita dari pada menghakimi orang lain. Sifat-sifat orang lain yang menjengkelkan sering kali justru merupakan kebiasaan-kebiasaan kita juga yang tidak kita sukai. Kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang tidak terkontrol, dan pola-pola perilaku kita yang buruk adalah sifat-sifat yang ingin kita ubahkan pada diri orang lain. Apakah mudah bagi memperbesar-besarkan kesalahan orang lain, sementara kita memaafkan diri kita untuk kesalahan yang sama? Bila kita sedang bersiap-siap mengkritik seseorang, mari memeriksa diri kita untuk mengetahui apakah kita juga bersedia menerima kritikian yang sama.
Hakimilah diri sendiri dulu, kemudian dengan kasih ampuni dan bantulah orang lain
Subscribe to:
Posts (Atom)